Artikel Bela Negara Kelas G182 - Rizky Amalia Khusna
ARTIKEL BELA NEGARA
Hallo everyone, kenalin namaku Rizky Amalia Khusna
dengan NPM 22032010011 dari prodi teknik industri kelas bela negara G182, saat
ini aku menempuh pendidikan di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa
Timur mahasiswa semester 3. Kali ini aku akan bercerita sedikit tentang
kegiatan outbound kemarin untuk memenuhi mata kuliah bela negara. Awalnya ku
kira outbound bela negara itu kaya simulasi militer yang tentang pbb yang bikin
boring, ternyata tidak seperti itu melebihi ekspektasiku tentang bela negara di
kampus ini, outboundnya seru banget banyak mainnya tapi mainnya gak bikin bosen
malah senang dan juga melatih kekompakan, konsetrasi, dan lain- lain bukan
main-main yang unfaedah. Walaupun outbound ini membuatku bangun dini hari dan
berangkat dari rumah subuh-subuh biar nggak telat tapi sangat seru kakak-kakak
pelatihnya juga seru bapak-bapak TNI nya juga nggak kalah seru, awalnya ku kira
mereka galak karena waktu pagi mau upacara bapak TNI nya ngebentak - bentak
ternyata pas latihan pbb sueruu pol, ga mbosenin dan ngga di panas-panasin kaya
pada umumnya walaupun gitu tetep belang si tanganku hehe.Outbound ini bikin aku
sama temen kelas yang lain makin deket yang awalnya Cuma ngerti wajahnya doing
sekarang jadi ngerti namanya, prodinya, asalnyaa dan curhat curhat tentang
tugas kuliah yang super duper banyak huhuhuhuhu.
Bela Negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut. Setiap warga negara memiliki kewajiban yang sama dalam masalah pembelaan negara. Hal tersebut merupakan wujud kecintaan seorang warga negara pada tanah air yang sudah memberikan kehidupan padanya. Hal ini terjadi sejak seseorang lahir, tumbuh dewasa serta dalam upayanya mencari penghidupan. Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut, sedangkan secara non-fisik konsep ini diartikan sebagai upaya untuk serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut. Dalam pelaksanaan pembelaan negara, seorang warga bisa melakukannya baik secara fisik maupun non fisik. Pembelaan negara secara fisik diantaranya dengan cara perjuangan mengangkat senjata apabila ada serangan dari negara asing terhadap kedaulatan bangsa. Sementara, pembelaan negara secara non fisik diartikan sebagai semua usaha untuk menjaga bangsa serta kedaulatan negara melalui proses peningkatan nasionalisme. Nasionalisme adalah rangkaian kecintaan dan kesadaran dalam proses berkehidupan dalam negara dan bangsa, serta upaya untuk menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. Selain itu, pembelaan bisa dilakukan dengan cara menumbuhkan keaktifan dalam berperan aktif untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep ini adalah tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Beberapa negara (misalnya Israel, Iran) dan Singapura memberlakukan wajib militer bagi warga yang memenuhi syarat (kecuali dengan dispensasi untuk alasan tertentu seperti gangguan fisik, mental atau keyakinan keagamaan). Sebuah bangsa dengan relawan sepenuhnya militer, biasanya tidak memerlukan layanan dari wajib militer warganya, kecuali dihadapkan dengan krisis perekrutan selama masa perang.
Bela negara adalah sikap
dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya. Peran
penting Bela Negara dapat dikuak secara lebih jernih dan mendalam melalui
perspektif pertahanan. Keutuhan wilayah Indonesia, beserta seluruh sumber daya,
kedaulatan dan kemerdekaannya, selalu terancam oleh agresi asing dari luar dan
pergolakan bersenjata dari dalam. Kalau ancaman ini menjadi nyata dan Indonesia
tidak siap, semuanya bisa kembali ke titik nol.
Antisipasi para pendiri
bangsa tercantum dalam salah satu poin tujuan nasional yaitu “Melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Pernyataan
tersebut menjadi dasar dari tujuan pertahanan. Ia tidak berdiri sendiri tetapi
berbagi ruang dengan tujuan keamanan atau ketertiban sipil dan berdampingan 3
(tiga) tujuan lainnya, yakni tujuan kesejahteraan (memajukan kesejahteraan
umum), tujuan keadaban (mencerdaskan kehidupan bangsa) dan tujuan kedamaian
(berpartisipasi aktif dalam perdamaian dunia yang adil dan abadi). Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan
Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela
negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban
membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus,
hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai
bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.Tercakup di dalamnya
adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Unsur Dasar Bela Negara
1. Cinta Tanah Air;
2. Kesadaran Berbangsa & bernegara;
3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara;
4. Rela berkorban untuk bangsa & negara;
5. Memiliki kemampuan awal bela negara.
Adapun contoh-Contoh Bela Negara, yaitu:
a. Melestarikan budaya;
b. Belajar dengan rajin bagi para pelajar
c. Taat akan hukum dan aturan-aturan negara;
d. Mencintai produk-produk dalam negeri.
Pemerintah Indonesia
saat ini menjalankan program pelatihan Bela Negara yang terbuka bagi seluruh
lapisan masyarakat. Pada tanggal 22 Oktober 2015, Menteri Pertahanan (Menhan)
Ryamizard Ryacudu meresmikan pembukaan program bela negara. Program tersebut dimaksudkan
untuk memperteguh keyakinan berdasarkan 5 unsur tersebut di atas, dan program
ini bukanlah sebuah bentuk wajib militer. Pada tanggal 23 Februari 2016, Menhan
Ryamizard Ryacudu kembali meresmikan peluncuran website resmi. Portal tersebut
dimaksudkan untuk menjadi sumber penyebaran informasi kepada masyarakat tentang
program Bela Negara, dan masyarakat juga bisa memberikan saran dan masukan di
portal tersebut.
Adapun sifat-sifat bela negara, yaitu:
1. Sifat lunak
Psycological:
a. Pemahaman ideologi negara (Pancasila dan UUD 1945)
b. Nilai-nilai luhur bangsa
c. Wawasan kebangsaan
d. Persatuan dan kesatuan bangsa
e. Kesadaran bela negara
Physical:
a. Perjuangan mengisi kemerdekaan
b. Pengabdian sesuai profesi
c. Menjunjung tinggi nama Indonesia di dunia internasional
d. Penanganan bencana dan menghadapi ancaman non militer lainnya (ekonomi,
sosial, budaya, dsb).
2. Sifat Keras
Menghadapi ancaman militer:
a. Komponen Utama
b. Komponen Cadangan (kombatan)
c. Komponen Pendukung (Non kombatan).
Nilai nilai bela negara:
Cinta tanah air:
Mengenal dan mencintai
tanah air agar selalu waspada dan siap membela tanah air Indonesia terhadap
segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang dapat membahayakan
kelangsungan hidup bangsa dan negara. Indikator cinta tanah air meliputi:
1. menjaga tanah dan pekarangan serta seluruh ruang wilayah
Indonesia;
2. bangga sebagai bangsa Indonesia;
3. menjaga nama baik bangsa dan negara Indonesia;
4. memberikan kontribusi dan kemajuan pada bangsa dan negara Indonesia;
5. mencintai produk dalam negeri, budaya, dan kesenian Indonesia.
Kesadaran berbangsa dan bernegara
Sadar sebagai warna
bangsa negara Indonesia dalam bentuk tingkah laku, sikap, dan kehidupan pribadi
agar dapat bermasyarakat sesuai dengan kepribadian bangsa. Indikator nilai
kesadaran berbangsa dan bernegara meliputi:
1. memiliki kesadaran keragaman budaya, suku, agama, bahasa
dan adat istiadat;
2. melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara sesuai dengan peraturan
dan perundang-undangan yang berlaku;
3. mengenal keragaman individu di rumah dan di lingkungannya;
4. berpikir, bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara
Indonesia;
5. berpartisipasi menjaga kedaulatan bangsa dan negara;
Yakin akan Pancasila:
Pancasila sebagai
pedoman dan pandangan hidup bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara guna mencapai tujuan nasional. Rasa yakin akan
Pancasila sebagai ideologi negara dicapai dengan menumbuhkan kesadaran:
1. yang didasari pada Pancasila, pada kebenaran negara
kesatuan republik Indonesia;
2. bahwa hanya dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, negara
bangsa Indonesia akan tetap jaya;
3. setiap perbedaan pendapat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat
diselesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat;
4. bahwa Pancasila dapat membentengi mental dan karakter bangsa dalam
menghadapi ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
Adapun indikator nilai yakin pada Pancasila sebagai
ideologi bangsa meliputi:
1. memahami nilai-nilai dalamPancasila.
mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari;
2. menjadikan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan negara Indonesia;
3. senantiasa mengembangkan nilai-nilai Pancasila;
4. setia pada Pancasila dan meyakini sebagai dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Rela berkorban:
Rela berkorban untuk
bangsa dan negara. Bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan harta benda
untuk kepentingan umum sehingga pada saatnya nanti siap mengorbankan jiwa raga
bagi kepentingan bangsa dan negara. Indikator rela berkorban bagi bangsa dan
negara meliputi:
1. bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk
kemajuan bangsa dan negara;
2. siap membela bangsa dan negara dari berbagai macam ancaman;
3. memiliki kepedulian terhadap keselamatan bangsa dan negara;
4. memiliki jiwa patriotisme terhadap bangsa dan negaranya;
5. mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
dan/atau golongan.
Kemampuan awal bela negara:
Secara Psikis (mental)
memiliki sifat disiplin, ulet, menaati segala peraturan perundang-undangan yang
berlaku, percaya akan kemampuan diri sendiri, tahan uji, pantang menyerah dalam
menghadapi kesulitan untuk mencapai tujuan nasional. Secara Fisik (jasmani)
memiliki kondisi kesehatan dan keterampilan jasmani yang dapat mendukung
kemampuan awal bela negara yang bersifat psikis.
Adapun Indikator nilai memiliki kemampuan awal bela negara
meliputi:
1. memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual,
kecerdasan emosional, dan kecerdasan dalam bertahan hidup atau mengatasi
kesulitan;
2. senantiasa memelihara kesehatan jiwa dan raganya;
3. ulet dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan;
4. terus membina kemampuan jasmani dan rohani; dan
5. memiliki keterampilan bela negara dalam bentuk keterampilan.
Komentar
Posting Komentar